Selasa, 27 Januari 2009

Pas lagi stress - stress nya ama kantor yang makin ama - makin gak jelas (baca: ditinggal partner), gak sengaja nemuin billboard Launching Buku nya Pak Butet “Presiden Guyonan”. Gak pake mikir lama, langsung dah beli tiket di KR versi ‘Lesehan’. Baru tahu juga, kalau nonton macem beginian ada tiket versi Lesehan selaen VIP (means : Mahal jek..! nek tuku langsung kere mergo tanggal tuwo) dan Umum (means : Nanggung). Acara nya mulai jam 20.00 - 23.00 WIY (waktu indonesia bagian yogya).

Budal mung bondo nekat, malemnya langsung nukerin tiket dan langsung masuk ke concert hall. Karena saking semangatnya pengen nonton cari penghibur.. eh, hiburan, aq salah masuk pintu. Dengan sotoy nya kagak punya dosa, bekal tiket LESEHAN, aq dengan PD masuk area VIP.  Alhasil, dicegat ama yang jaga (tu orang mungkin pengen getok kepala q) sambil ngom gini

Nyang jaga : “ohh… kalau lesehan pintu masuknya lewat sana mbakk…” .

Aq cm bilang : “ohh… ho.. oh…”

Cari - cari pintu masuk tiket ala orang kere, ketemu juga akhirnya walaupun sempet hampir digetok beneran ama Nyang jaga pintu tiket versi Umum (means : goblok kok permanen, nyasar 2 kali salah masuk di bangku tiket versi Umum. Nek pak Butet ngerti paling mati gemes ate nabok trus ngom ngene : ” mbayar kere, njaluk sak enak udel’e!!).  he…he…he..

Akhirnya, jam 8 pas acara dimulai. Keren abis acaranya. Gak kayak acara launching buku laennya. Bintang tamu gak kalah penting, yahut2, tur mbanyol polll. Good perform lah pak Butet dan rekan- rekan seniman. Sukses buat bukunya.

Nyang belon punya bukunya,  ojok fotokopi, rugi.

Comments No Comments »

ck..ck..ck…

Comments 2 Comments »

Comments No Comments »

Tuhan itu lucu…

Saya dengar sendiri dari hambanya yang ikhwan ini

Kalau dia sudah ketemu jodoh

Saya bilang, enak juga sudah ketemu jodoh

Tapi, jujur, saya mulai kehilangan

Saya memang punya “Cinta yang Membebaskan” untuk hambanya ini

Termasuk membebaskan dia memilih jalan hidup dan pasangannya

Karena saya sayang hambanya ini

Saya ikhlas…

Tuhan itu lucu…

Ketika saya dalam keadaan disakiti hambanya yang ikhwan…

Seketika itu pula datang pengganti ikhwan yang laen…

Datang untuk mengetahui hidup saya

Tapi keadaan saya tidak begitu baik kawan

Buruk malah

Lalu apa yang bisa saya lakukan untuk ikhwan yang laen ini?

Semoga saya tidak menyakitinya seperti yang dilakukan hambanya yang ikhwan dulu pada saya…

Tegur saya kalau menyakitinya tuhan…

Dan, Tuhan itu memang  lucu…

Comments No Comments »

Uda pada baca buku ini kan… pasti uda dong? (klo belum, rasain belom baca…! hehehe…)
Sebenernye udah lama tau ni buku cuman baru kali ini pengen korek - korek dikit. Buku penuh kejutan yang menyibak sekelumit kehidupan pribadi sejumlah wanita IRAN. Dalam acara kumpul - kumpul bersama minum teh, terjadi pembicaraan antar wanita. Yap apa lagi kalau bukan Cinta, Seks, dan segala tingkah polah pria. Membaca kisah hidup mereka yang dituangkan dalam percakapan - percakapan ringan - kadang lucu - kadang tragis - membuat kita merasa ditengah - tengah para wanita ini. Ikut berbagi cerita dan mendengarkan topik - topik yang salah satu diantaranya tentu pernah dialami wanita manapun. Dijamin buku ini tidak membosankan.

Comments 3 Comments »

Dari dulu ampe sekarang saya masih penasaran dengan orang yang punya predikat “Psikopat” (baca: Spesial). Menurut saya orang itu pastilah menarik. Eitss, jangan dilihat dari satu sisi aja yaa… mereka itu keren tau… Amazing! (Amazing pale lu…!). Coba pikir, dia (orang spesial) mampu berfikir lebih liar dari pemikiran orang - orang normal pada umumnya. Dia punya sudut pandang spesial yang gak semua orang punya. Misalnya kalau orang normal punya pendapat A - B - atau C, tapi dia bisa punya pendapat X, yang misteri abis kalo kita korek - korek. Dan kalau orang normal mikir hal itu adalah ab-ab-abnormal… Walaupun yang dipikir adalah bukan hal yang baik. Mungkin Cerpen “Rully sang merah” bisa bantu saya melihat sudut pandang itu…

MAYAT - MAYAT DIKAMAR MANDI - RULLY SANG MERAH

Ada banyak mayat dikamar mandiku. Mayat - mayat yang ku kumpulkan selama setahun terakhir ini. Kutumpuk secara berurutan sesuai jadwal kematian mereka. Berbagi kebusukan satu sama lain, berjejal dengan sesama tubuh tak bernyawa yang bernasib sama. Yang bertumpuk dibagian paling bawah adalah korban pertamaku. Seorang lelaki tua, ayahku sendiri. Ia kubunuh tanpa sengaja ketika melukaiku dengan pemukul bisbol setahun lampau. Bukan sekali itu saja ia menyakitiku, sudah berulang kali semenjak kepergian ibu puluhan tahun lalu. Puluhan tahun pulalah aq mengalah, tak pernah melawan. Namun hari itu, akhirnya ia menerima ganjarannya.  Sebuah vas bunga kupecahkan tepat dikepala botaknya. Sungguh tak kusangka ia bisa mati hanya dengan vas bunga itu. Mulanya mayatnya hendak kukuburkan, tapi alangkah lebih baik jika mayatnya itu kujadikan souvenir sebagai penghias kamar mandi. Sebagai salah satu hasil karyaku. Kepuasan, kelegaan, dan kenikmatan akan kematian ayahku tersebut lalu menjelma tanpa sadar menjadi satu tuntutan yang harus dilakoni, layaknya pelukis yang haus inspirasi, layaknya tanaman dikebun yang harus disirami. Bukan kecanduan, atau sebatas keinginan.
Ada semacam panggilan yang terus bergema disanubari, menyemangati, berkobar layaknya birahi. Koleksi mayatku harus segera kulengkapi! Setiap malam, semenjak kejadian itu, koleksiku terus bertambah dan bertambah seiring makin meluapnya manusia tak berguna yang memang pantas untuk mati, untuk menghuni kamar mandi. Aku membunuh satu pelacur, untuk mewakili kaum mereka, manusia - manusia bejad penyebar penyakit yang terus hidup bebas dan menghirup udara yang sama denganku. Aku juga membunuh satu gelandangan, manusia malas yang bukannya berbuat apa - apa untuk memperbaiki hidupnya, malah mengotori pemandanganku dijalanan yang seharusnya sedap dipandang. Aku juga menyimpan mayat seorang jambret bis kota yang berhasil kupergoki sedang beraksi di bis kota yang kutumpangi. Ada juga mayat politisi, mayat manusia dengan ras yang tak kusukai, juga mayat teman kerjaku yang mahir korupsi. Mereka semua mati, dan menempati ruang yang sama, kamar mandi. Mayat terakhir yang kukoleksi adalah seorang tetangga  yang selalu membuang sampah dipekaranganku. Ia kini berada ditumpukan mayat paling atas. Koleksi terbaru.

***

Aku tidak tinggal sendiri dirumah ini. Aku ditemani diriku yang satu lagi.  Walau tinggal serumah, namun kami sangat bertolak belakang dalam kepribadian. Berbeda dengan aku yang tidak tertanggu dengan bau busuk dikamar mandi, diriku yang satunya ini selalu mengeluh dan merasa tak nyaman dengan hal itu.

“Kamar mandi itu kini tak bisa dipakai lagi akibat ulahmu! baunya kemana - mana! Apa tak malu kau sama tetangga?” Berulang kali ia mengatakan hal yang sama kepadaku.

” Kau kan bisa gunakan kamar mandi yang ada di kamar ayah! Toh ayah kan sudah tiada. Masalah tetangga tak perlu khawatir, ia juga sudah tiada dirumahnya, melainkan di kamar mandi kita.” Jawabku.

Diriku yang satunya itu tak pernah bisa mengerti penjelasanku. Ia terlalu normal. Terlalu peduli dengan tata krama lingkungan yang telah sukses membentuknya menjadi salah satu produk mereka. Ia juga patuh terhadap segala hal yang mengekangnya, termasuk ayah, termasuk atasannya, termasuk pacarnya, termasuk tetek bengek rekening dan tagihannya, termasuk pekerjaannya. Ia sama sekali tidak mau melepaskan diri atau mungkin tak menyadari ancaman yang sedang menghimpun tenaga didalam dirinya. Ia terlalu baik (atau terlalu bodoh?). Tak percaya aku bisa tahan hidup serumah dengannya. Padahal, sejauh ini aku telah berusaha untuk menjadi teman serumah yang sangat - sangat baik. Apapun kulakukan demi kebahagiaannya. Telah kubunuh ayah demi kebaikannya, begitu pula yang kulakukan terhadap atasannya. Seharusnya ia bisa belajar banyak dari jasa - jasa yang kuperbuat. Namun, yang terus ia lakukan hanyalah mengeluh, mengeluh dan mengeluh terus.

“Pacarku akan mampir kesini siang nanti. Bagaimana jika ia mencium bau busuk dirumah kita ini?. Aku tak ingin malu, singkirkan semua mayat itu! Kuperingatkan kau!” ujarnya sedikit mengancam. Mayat - mayat itu telah tersusun rapi sesuai urutan mereka, aku tak ingin merombaknya. Mereka adalah koleksi yang berharga, melebihi apapun yang ada dirumah ini.

“Akan aku tutup pintunya rapat - rapat. Jangan kuatir, takkan bau.  Pacarmu takkan menyadarinya. Akan aku buatkan kalian nasi goreng kesukaanmy. Akan aku bersihkan rumah, kubereskan pakaian kotor, dan akan kucucikan piring kalian selepas itu. Asalkankau membolehkanku menyimpan mayat - mayat itu.”Bujukku sedikit memohon. Ia pun dengan terpaksa mengangguk.

“Kau tahu pacarku, ia orang yang sangat pembersih. Perfecsionis. Jangan buat kegaduhan selama ia disini nanti, ingat itu!”

Aku heran, bisa - bisanya diriku yang satunya ini terlalu peduli terhadap pacarnya dibandingkan diriku, teman serumahnya. Segala - galanya untuk pacarnya. Pacarnya astaga….
tidak juga cantik ataupun kaya, pacar itu hanya wanita biasa yang kebetulan merupakan satu - satunya wanita yang bersedia mencintainya. Tak lebih dari itu. Namun mengapa diriku yang satunya ini membela wanita itu habis - habisan, bagai ialah wanita paling agung dimuka bumi. Sedang dimataku, pacarnya itu hanyalah seperti durian busuk. Wanita yang merasa dirinya cantik hanya karena merasa sudah punya pacar. Wanita yang selalu menginginkan segala hal berada ditempat semestinya. Wanita yang terlalu terpaku estetika yang baku. Dan intinya, wanita yang tidak pernah sadar betapa biasa diri dia sebenarnya. Aku tentu saja sudah pernah mengungkapkan perasaanku ini pada diriku yang satunya, betapa benci aku terhadap pacarnya. Dan sejak itulah ia malah selalu memperingatkanku agar tidak berbuat macam - macam didepan wanita itu.

***

Kondisi rumah sudah tertata dengan baik ketika pacarnya tiba. Pintu kamar mandi yang penuh mayat sudah kukunci rapat. Weeangian flamboyan memenuhi ruang tamu, dapur, kamar tidur dan seluruh rumah. Tak mungkin muncul kecurigaan. Kubuatkan nasi goreng untuk mereka berdua dan kurapikan kasur demi kenyamanan mereka melakukan hubungan badan. Namun, bukan terima kasih yang kudapatkan, melainkan ocehan pacarnya tentang penataan ruang rumahku yang buruk.

“Rumahmu terlalu kuno, lagipula tak ada lukisan atau hiasan dinding.” Katanya ketika memasuki ruang tamu, atau: “Kenapa kau tak memelihara anjing atau kucing agar suasana lebih ceria,”. Omelnya terus menerus seolah wanita bangsawan. Dasar wanita jelek tak tahu diuntung!

Dadaku memanas, gigku gemas. Aku tak tahan lagi. Wanita itu harus kubunuh sebagai koleksi orang - orang burukku. Gejolak perasaan itu makin menjadi setiap kali aku menatap wanita itu. Rambut, lengan, belahan paha, setiap bagian tubuhnya sangat layak untuk dipisahkan satu sama lain dari tubuhnya.

***

Ketika kami bertiga sedang bercakap - cakap diruang tamu sambil menonton film, aku melampiaskan gairah  liarku dengan mengiris pepaya dan ketimun untuk kelak dibuat rujak. Dan bahkan tanpa kusadari, pisau yang sedang kupegang entah bagaimana bergerak menyambar lehernya, membelah kerongkongan wanita bertabiat buruk itu. CROOT!!! Darah menyembur dari lehernya dengan hebat. Menodai karpet dan ketimunku dengan warna merah pekat. Aku kaget, tapi lantas tertawa. Tubuhnya menggelepar dilantai seperti ayam yang disembelih. Lucu sekali. Diriku yang satunya lagi bingung harus berbuat apa. Yang pasti ia marah besar. Tak henti memaki dan mengumpatku.

“Sayangku!!” Tangisnya sambil memeluk mayat wanita kesayangannya itu.
“Lihat apa yang kau perbuat?! Puas kau sekarang?! Bentaknya padaku.
“Aku tak sengaja, maafkan. Pisau itu tak bis kukendalikan. Maafkan.” Alasanku membela diri.
“Aku tak sudi memaafkanmu kali ini,” Lanjutnya sembari berjalan cepat menuju kamar mandi.

Bagaimana ini, ia pasti marah besar. Dibukannya pintu kamar mandi dan mengacak - acak susunan mayat yant tersusun rapi disana. Koleksiku paling berharga yang telah tertata baik sesuai urutan mereka. Mengapa ia tak pernah bisa mengerti bahwa mayat - mayat itu adalah orang - orang yang kubunuh demi kebahagiaannya juga. Demi melepaskannya dari kekangan dunia. Demi cerminan nyata bagi perbaikan moral manusia. Namun ia sama sekali tak tahu berterima kasih, atau paling tidak menghormati. Sekali ini ia harus diberi pelajaran. Bagaimanapun, diriku yang satunya ini juga tak lebih dari mayat - mayat itu. Ia juga merupaka manusia yang buruk, manusia yang selalu mengeluh dan tak tahu balas jasa, manusia yang sudah seharusnya pantas untuk mati dan menghuni kamar mandi. Aku lalu mengambil pisau yang masih berlumuran darah diruang tamu, dan perlahan - menghampirinya.  Akan kulengkapi koleksi mayatku.

Comments No Comments »

Morning Fresh…

Muahhh…

Banyak ingatan dari masa kecil kita yang terbuang dan kita gak pernah ingat dengan detail. Bagaimana hidup kita waktu kecil?. Pastinya menyenangkan karena yang kita kerjain cuma Main - Belajar - Tidur bahkan sambil berak atau kecing dicelana sekalipun kita masih dianggap wajar waktu itu.
Sayangnya, semua hal itu tidak pernah bisa kita ingat… tapi ada beberapa bagian kecil yang bisa bikin kita ketawa atau bingung (dan itu yang selalu saya alami) waktu mengenang masa lalu . Salah satunya adalah ketika orang suka bertanya apa cita - cita lo

Dulu waktu kita masih kecil, pasti banyak orang nanya gini
Orang gak jelas: “Cita - citanya mau jadi apa dek…?”
atau
“nanti kalau sudah besar mau jadi apa?”
saya jawab sekena nya (ketika itu) : saya mau jadi pelacur terkenal BITCH…! (hehehe… gak lahh….)

Hayooo… siapa coba yang gak pernah dikasih pertanyaan kayak gitu waktu kecil?
(yang gak pernah silahkan acungkan jari tengah and say : i’m lucky boy/girl…)

Saya bosan dan malas ikut bicara kalau ada orang yang menanyakan hal tersebut pada anak - anak
ingin tahu kenapa?

“Karena saya tidak punya cita - cita”

Mungkin mudah bagi kita bicara waktu itu, jika ditanya mau jadi apa nanti
banyak dari teman - teman saya bilang kalau mereka ingin jadi bla..bla..bla…

Kalau dibuat kuisioner mungkin seperti ini:
Pertanyaan: “Nanti kalau sudah besar mau jadi apa…? atau cita - citanya mau jadi apa dek..?”

Jawaban paporit menurut anak - anak adalah… (Backsound: Eng.. Ing.. Eng..)
1. Dokter
2. Guru
3. Pilot
4. Presiden
5. Pramugari

Urutan - urutan tersebut bisa dibolak balik atau diganti atau ditambahkan sesuai selera anda.

Dengan mudahnya mereka menjawab seolah - olah mereka tahu bagaimana itu jadi dokter atau jadi presiden

bagaimana bentuk tanggung jawabnya
bagaimana caranya menuju ke cita - cita kita
bagaimana resiko yang kita hadapi
bagaimana cara kita berinteraksi
bagaimana dan bagaimana
(mungkin mereka lebih tahu ketimbang saya waktu itu…)

Ketika pertanyaan itu ditujukan pada saya, saya cuma bisa menjawab ala kadarnya atau kadang  saya menjawab jadi dokter hari ini, besok jadi kuli atau, besoknya lagi jadi pengusaha atau

saya bilang saja: maaf, hari ini saya tidak punya cita - cita karena semua cita - cita (pekerjaan) sudah saya sebut setiap kali bertemu orang yang tanya apa cita - cita saya…

aniwei, bukan karena saya plin plan tapi memang karena saya lupa. Saya lupa atau lebih tepatnya saya tidak tahu

yaa… saya benar2 tidak tahu resiko dan tanggung jawab masing - masing jabatan
apa untung dan ruginya posisi2 itu
apa enaknya
apa yang membuat seorang dikatakan berhasil
kenapa harus dengan jabatan2 itu
apa pekerjaan2 yang lain itu haram hukumnya. tidak sah. tidak boleh.
kenapa mereka selalu sebut cita2 yang itu itu melulu
saya BOSAN
saya ingin cita - cita yang tidak pernah teman - teman saya sebut
saya ingin cita - cita yang tidak pernah disebut itu, bisa bikin mereka bertepuk tangan untuk saya nanti
saya ingin cita - cita itu mampu mempengaruhi semua orang didunia
saya ingin cita - cita itu membebaskan saya berfikir
saya ingin cita - cita itu …

tapi sayangnya kalau saya ditanya lagi apa cita - cita saya
saya tetap saja jawab: “saya tidak tahu, yang saya tahu , apa yang sudah dan akan saya lakukan
bisa bikin semua orang bahagia dan ikut menikmati indahnya hidup…”

Comments No Comments »

Kesambet! iye mungkin. Kenapa jadi tiba - tiba pengen bikin blog? . Alasannya simpel aja karena saya gak suka nulis diary (baca: diare) dan sukanya lama - lama di depan komputer. So kali ini saya memutuskan untuk membuat blog sendiri (backsound : Gledarrr….!)

Orang Normal Nanya (Singkat: ONN) : ngapain lama2 didepan komputer?
Saya : soalnya gak tau gimana caranya pegang komputer, jadi maaf kalo lama (Glodakkk..!!!)

But
Satu - satunya alasan kuat (emangnye sinyal) kenapa bikin blog adalah yaa.. itu tadi,  karna saya gak suka nulis diary (mbulet…). Entah kenapa dari dulu gak pernah suka ama diary alasannya sih sederhana kalo kita nulis rahasia kita di diary, so kemungkinan 99,9957910256713560% rahasia kita bisa kebaca ama orang kalau ketahuan ama orang rumah, terutama ibu, pertama tama di baca ibu (it’s ok.. kita harus terbuka dan jujur ama ibu) lama - lama jadi bahan omongan sekeluarga. Karena predikat wanita - ibu adalah ratu gosip sejagat maka bisa - bisa tetangga juga ikutan tahu trus lama lama satu kampung tahu trusss….. (hah! emang sapa elo…)

ONN : Lha apa bedanye ame curhat di blog?
saya : hehehe… iye2 kan sama2 kebaca ama orang, malah lebih parah lagi bisa2 dibaca ama orang sedunia ato yang lebih gawat lagi bisa kebaca ama Alien nyang modelnye kaya Cybertron yang bisa baca lewat wide world web trus bisa2 perang trus kiamat gara2 baca blog gw… (nglantur dah coz abis nonton transformer …)

ONN :  kan malah bisa dibaca ama orang banyak BEGO$#*$@@*#…?! (Maaf, Sensornya telat)
saya : (sambil cengar cengir….) hehehehe… iye2
ONN : so?
saya : just want to say to anyone how do i look and think on every second - minute - hours - days - weeks - months - years
when i love them very much…
ONN : (diem sebentar…) ehm… brainstorm yang kemaren sampe mana?

yak begitulah
cuman bisa diem ketika denger alasan saya.
anyway.. gak tau deh alasan yang pasti tapi yah… selamat menikmati blog saya

NB: gak dijamin kalo abs baca ntar lo jadi ******…. (*terjemahan: Tiiitttt……….. diterjemahin sendiri maksudnya hehehe)

Comments No Comments »