Dari dulu ampe sekarang saya masih penasaran dengan orang yang punya predikat “Psikopat” (baca: Spesial). Menurut saya orang itu pastilah menarik. Eitss, jangan dilihat dari satu sisi aja yaa… mereka itu keren tau… Amazing! (Amazing pale lu…!). Coba pikir, dia (orang spesial) mampu berfikir lebih liar dari pemikiran orang - orang normal pada umumnya. Dia punya sudut pandang spesial yang gak semua orang punya. Misalnya kalau orang normal punya pendapat A - B - atau C, tapi dia bisa punya pendapat X, yang misteri abis kalo kita korek - korek. Dan kalau orang normal mikir hal itu adalah ab-ab-abnormal… Walaupun yang dipikir adalah bukan hal yang baik. Mungkin Cerpen “Rully sang merah” bisa bantu saya melihat sudut pandang itu…
MAYAT - MAYAT DIKAMAR MANDI - RULLY SANG MERAH
Ada banyak mayat dikamar mandiku. Mayat - mayat yang ku kumpulkan selama setahun terakhir ini. Kutumpuk secara berurutan sesuai jadwal kematian mereka. Berbagi kebusukan satu sama lain, berjejal dengan sesama tubuh tak bernyawa yang bernasib sama. Yang bertumpuk dibagian paling bawah adalah korban pertamaku. Seorang lelaki tua, ayahku sendiri. Ia kubunuh tanpa sengaja ketika melukaiku dengan pemukul bisbol setahun lampau. Bukan sekali itu saja ia menyakitiku, sudah berulang kali semenjak kepergian ibu puluhan tahun lalu. Puluhan tahun pulalah aq mengalah, tak pernah melawan. Namun hari itu, akhirnya ia menerima ganjarannya. Sebuah vas bunga kupecahkan tepat dikepala botaknya. Sungguh tak kusangka ia bisa mati hanya dengan vas bunga itu. Mulanya mayatnya hendak kukuburkan, tapi alangkah lebih baik jika mayatnya itu kujadikan souvenir sebagai penghias kamar mandi. Sebagai salah satu hasil karyaku. Kepuasan, kelegaan, dan kenikmatan akan kematian ayahku tersebut lalu menjelma tanpa sadar menjadi satu tuntutan yang harus dilakoni, layaknya pelukis yang haus inspirasi, layaknya tanaman dikebun yang harus disirami. Bukan kecanduan, atau sebatas keinginan.
Ada semacam panggilan yang terus bergema disanubari, menyemangati, berkobar layaknya birahi. Koleksi mayatku harus segera kulengkapi! Setiap malam, semenjak kejadian itu, koleksiku terus bertambah dan bertambah seiring makin meluapnya manusia tak berguna yang memang pantas untuk mati, untuk menghuni kamar mandi. Aku membunuh satu pelacur, untuk mewakili kaum mereka, manusia - manusia bejad penyebar penyakit yang terus hidup bebas dan menghirup udara yang sama denganku. Aku juga membunuh satu gelandangan, manusia malas yang bukannya berbuat apa - apa untuk memperbaiki hidupnya, malah mengotori pemandanganku dijalanan yang seharusnya sedap dipandang. Aku juga menyimpan mayat seorang jambret bis kota yang berhasil kupergoki sedang beraksi di bis kota yang kutumpangi. Ada juga mayat politisi, mayat manusia dengan ras yang tak kusukai, juga mayat teman kerjaku yang mahir korupsi. Mereka semua mati, dan menempati ruang yang sama, kamar mandi. Mayat terakhir yang kukoleksi adalah seorang tetangga yang selalu membuang sampah dipekaranganku. Ia kini berada ditumpukan mayat paling atas. Koleksi terbaru.
***
Aku tidak tinggal sendiri dirumah ini. Aku ditemani diriku yang satu lagi. Walau tinggal serumah, namun kami sangat bertolak belakang dalam kepribadian. Berbeda dengan aku yang tidak tertanggu dengan bau busuk dikamar mandi, diriku yang satunya ini selalu mengeluh dan merasa tak nyaman dengan hal itu.
“Kamar mandi itu kini tak bisa dipakai lagi akibat ulahmu! baunya kemana - mana! Apa tak malu kau sama tetangga?” Berulang kali ia mengatakan hal yang sama kepadaku.
” Kau kan bisa gunakan kamar mandi yang ada di kamar ayah! Toh ayah kan sudah tiada. Masalah tetangga tak perlu khawatir, ia juga sudah tiada dirumahnya, melainkan di kamar mandi kita.” Jawabku.
Diriku yang satunya itu tak pernah bisa mengerti penjelasanku. Ia terlalu normal. Terlalu peduli dengan tata krama lingkungan yang telah sukses membentuknya menjadi salah satu produk mereka. Ia juga patuh terhadap segala hal yang mengekangnya, termasuk ayah, termasuk atasannya, termasuk pacarnya, termasuk tetek bengek rekening dan tagihannya, termasuk pekerjaannya. Ia sama sekali tidak mau melepaskan diri atau mungkin tak menyadari ancaman yang sedang menghimpun tenaga didalam dirinya. Ia terlalu baik (atau terlalu bodoh?). Tak percaya aku bisa tahan hidup serumah dengannya. Padahal, sejauh ini aku telah berusaha untuk menjadi teman serumah yang sangat - sangat baik. Apapun kulakukan demi kebahagiaannya. Telah kubunuh ayah demi kebaikannya, begitu pula yang kulakukan terhadap atasannya. Seharusnya ia bisa belajar banyak dari jasa - jasa yang kuperbuat. Namun, yang terus ia lakukan hanyalah mengeluh, mengeluh dan mengeluh terus.
“Pacarku akan mampir kesini siang nanti. Bagaimana jika ia mencium bau busuk dirumah kita ini?. Aku tak ingin malu, singkirkan semua mayat itu! Kuperingatkan kau!” ujarnya sedikit mengancam. Mayat - mayat itu telah tersusun rapi sesuai urutan mereka, aku tak ingin merombaknya. Mereka adalah koleksi yang berharga, melebihi apapun yang ada dirumah ini.
“Akan aku tutup pintunya rapat - rapat. Jangan kuatir, takkan bau. Pacarmu takkan menyadarinya. Akan aku buatkan kalian nasi goreng kesukaanmy. Akan aku bersihkan rumah, kubereskan pakaian kotor, dan akan kucucikan piring kalian selepas itu. Asalkankau membolehkanku menyimpan mayat - mayat itu.”Bujukku sedikit memohon. Ia pun dengan terpaksa mengangguk.
“Kau tahu pacarku, ia orang yang sangat pembersih. Perfecsionis. Jangan buat kegaduhan selama ia disini nanti, ingat itu!”
Aku heran, bisa - bisanya diriku yang satunya ini terlalu peduli terhadap pacarnya dibandingkan diriku, teman serumahnya. Segala - galanya untuk pacarnya. Pacarnya astaga….
tidak juga cantik ataupun kaya, pacar itu hanya wanita biasa yang kebetulan merupakan satu - satunya wanita yang bersedia mencintainya. Tak lebih dari itu. Namun mengapa diriku yang satunya ini membela wanita itu habis - habisan, bagai ialah wanita paling agung dimuka bumi. Sedang dimataku, pacarnya itu hanyalah seperti durian busuk. Wanita yang merasa dirinya cantik hanya karena merasa sudah punya pacar. Wanita yang selalu menginginkan segala hal berada ditempat semestinya. Wanita yang terlalu terpaku estetika yang baku. Dan intinya, wanita yang tidak pernah sadar betapa biasa diri dia sebenarnya. Aku tentu saja sudah pernah mengungkapkan perasaanku ini pada diriku yang satunya, betapa benci aku terhadap pacarnya. Dan sejak itulah ia malah selalu memperingatkanku agar tidak berbuat macam - macam didepan wanita itu.
***
Kondisi rumah sudah tertata dengan baik ketika pacarnya tiba. Pintu kamar mandi yang penuh mayat sudah kukunci rapat. Weeangian flamboyan memenuhi ruang tamu, dapur, kamar tidur dan seluruh rumah. Tak mungkin muncul kecurigaan. Kubuatkan nasi goreng untuk mereka berdua dan kurapikan kasur demi kenyamanan mereka melakukan hubungan badan. Namun, bukan terima kasih yang kudapatkan, melainkan ocehan pacarnya tentang penataan ruang rumahku yang buruk.
“Rumahmu terlalu kuno, lagipula tak ada lukisan atau hiasan dinding.” Katanya ketika memasuki ruang tamu, atau: “Kenapa kau tak memelihara anjing atau kucing agar suasana lebih ceria,”. Omelnya terus menerus seolah wanita bangsawan. Dasar wanita jelek tak tahu diuntung!
Dadaku memanas, gigku gemas. Aku tak tahan lagi. Wanita itu harus kubunuh sebagai koleksi orang - orang burukku. Gejolak perasaan itu makin menjadi setiap kali aku menatap wanita itu. Rambut, lengan, belahan paha, setiap bagian tubuhnya sangat layak untuk dipisahkan satu sama lain dari tubuhnya.
***
Ketika kami bertiga sedang bercakap - cakap diruang tamu sambil menonton film, aku melampiaskan gairah liarku dengan mengiris pepaya dan ketimun untuk kelak dibuat rujak. Dan bahkan tanpa kusadari, pisau yang sedang kupegang entah bagaimana bergerak menyambar lehernya, membelah kerongkongan wanita bertabiat buruk itu. CROOT!!! Darah menyembur dari lehernya dengan hebat. Menodai karpet dan ketimunku dengan warna merah pekat. Aku kaget, tapi lantas tertawa. Tubuhnya menggelepar dilantai seperti ayam yang disembelih. Lucu sekali. Diriku yang satunya lagi bingung harus berbuat apa. Yang pasti ia marah besar. Tak henti memaki dan mengumpatku.
“Sayangku!!” Tangisnya sambil memeluk mayat wanita kesayangannya itu.
“Lihat apa yang kau perbuat?! Puas kau sekarang?! Bentaknya padaku.
“Aku tak sengaja, maafkan. Pisau itu tak bis kukendalikan. Maafkan.” Alasanku membela diri.
“Aku tak sudi memaafkanmu kali ini,” Lanjutnya sembari berjalan cepat menuju kamar mandi.
Bagaimana ini, ia pasti marah besar. Dibukannya pintu kamar mandi dan mengacak - acak susunan mayat yant tersusun rapi disana. Koleksiku paling berharga yang telah tertata baik sesuai urutan mereka. Mengapa ia tak pernah bisa mengerti bahwa mayat - mayat itu adalah orang - orang yang kubunuh demi kebahagiaannya juga. Demi melepaskannya dari kekangan dunia. Demi cerminan nyata bagi perbaikan moral manusia. Namun ia sama sekali tak tahu berterima kasih, atau paling tidak menghormati. Sekali ini ia harus diberi pelajaran. Bagaimanapun, diriku yang satunya ini juga tak lebih dari mayat - mayat itu. Ia juga merupaka manusia yang buruk, manusia yang selalu mengeluh dan tak tahu balas jasa, manusia yang sudah seharusnya pantas untuk mati dan menghuni kamar mandi. Aku lalu mengambil pisau yang masih berlumuran darah diruang tamu, dan perlahan - menghampirinya. Akan kulengkapi koleksi mayatku.